Atlet dilarang makan makanan berlemak tinggi menjelang bergulirnya jadwal pertandingan resmi demi menghindari terjadinya gangguan sistem pencernaan yang dapat merusak konsentrasi bertanding di lapangan. Zat gizi makro jenis lipid membutuhkan waktu pemrosesan yang jauh lebih lama di dalam lambung dan usus halus dibandingkan dengan senyawa karbohidrat sederhana. Ketika lambung dipaksa bekerja keras mencerna makanan yang berat, tubuh secara otomatis akan mengalirkan sebagian besar sirkulasi darah menuju area perut. Akibat pengalihan arus ini, pasokan oksigen dan sari makanan menuju jaringan otot lurik dan otak akan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kondisi fisiologis ini memicu timbulnya rasa kantuk, lemas, dan kelesuan fisik yang merugikan.

Atlet dilarang makan makanan berlemak tinggi karena dapat memicu timbulnya gejala kram lambung, mual, hingga muntah saat tubuh melakukan aktivitas fisik berintensitas tinggi. Goncangan mekanis yang terjadi saat atlet berlari atau melompat dengan kondisi perut yang penuh makanan berminyak akan merangsang asam lambung naik menuju esofagus. Sensasi terbakar di dada atau heartburn ini secara instan menghancurkan fokus pikiran olahragawan yang sedang berjuang menargetkan medali emas kejuaraan. Selain itu, lipid tidak dapat dikonversi menjadi energi siap pakai dalam waktu singkat untuk memenuhi kebutuhan daya ledak otot yang bersifat mendadak. Pengonsumsian makanan yang salah pada masa persiapan ini merupakan bentuk kecerobohan profesional yang fatal akibatnya.

Kerugian nutrisi yang nyata dari kebiasaan buruk ini adalah hilangnya kesempatan emas untuk mengisi penuh cadangan glikogen otot melalui asupan karbohidrat yang tepat. Tubuh yang dipenuhi asupan minyak jenuh cenderung merasa cepat lelah karena ketiadaan bahan bakar utama yang mudah dibakar sistem metabolisme aerobik lapangan. Ketika fisik berada dalam kondisi energi yang rapuh, seorang olahragawan tidak akan mampu menampilkan performa teknik terbaiknya secara maksimal dari awal hingga akhir laga. Stabilitas emosi juga akan terganggu akibat rasa tidak nyaman yang terus bergejolak di dalam rongga perut sepanjang waktu bertanding. Manajemen piring makan pra-laga sama krusialnya dengan taktik strategi bermain.

Oleh karena itu, tim ahli gizi olahraga wajib menyusun panduan menu makan pra-kompetisi yang ketat bagi seluruh anggota tim setidaknya tiga jam sebelum bertanding dimulai. Makanan yang disarankan adalah hidangan yang kaya akan karbohidrat kompleks berindeks glikemik rendah hingga sedang, serta rendah serat demi kelancaran pencernaan lambung. Edukasi mengenai bahaya mengonsumsi makanan cepat saji atau gorengan di masa kritis ini harus terus digalakkan secara konsisten di asrama pelatihan atlet. Melalui komitmen yang kuat untuk menghormati kebutuhan biologis tubuh dalam hal asupan gizi, performa puncak yang konsisten akan lebih mudah diraih di arena kejuaraan dunia.